Pelindo Siapkan 4 Langkah Standardisasi Operasi dan Komersial

Pelindo Siapkan 4 Langkah Standardisasi Operasi dan Komersial

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencanangkan empat langkah untuk mencapai standarisasi operasional dan komersial. Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono mengatakan pasca merger, perseroan telah mencanangkan standarisasi seluruh pelabuhan yang ada di bawah kendalinya secara bertahap. Empat langkah dilakukan PT Pelindo untuk mencapai standarisasi operasional dan komersial, yakni pengembangan kapabilitas organisasi dan manusia, pola bisnis operasi berbasis perencanaan dan kontrol, optimalisasi infrastruktur dan peralatan. Termasuk penataan lay out pelabuhan, dan membangun budaya keselamatan melalui peningkatan kesadaran akan keselamatan dan standarisasi protokol keselamatan

“Hasilnya, selama hampir delapan bulan pasca merger, ada peningkatan kinerja dan produktivitas di sejumlah pelabuhan,” ujarnya melalui keterangan resmi, Sabtu (11/6/2022).

Sekain itu juga eningkatan produktivitas bongkar muat diukur dengan parameter boks per kapal per jam (BSH) dan pengurangan port stay atau waktu sandar kapal di pelabuhan yang diukur dengan jumlah hari. Di Terminal Peti Kemas (TPK) Belawan, jumlah bongkar muat naik lebih dari dua kali lipat dari 20 boks per kapal per jam menjadi 45 boks per kapal per jam. Kecepatan bongkar muat itu membuat waktu sandar kapal dapat berkurang menjadi setengahnya, dari dua hari menjadi hanya satu hari. Peningkatan kinerja yang sama terjadi di TPK Makassar. Kecepatan bongkar muat dari dari 20 BSH menjadi 42 BSH dan waktu sandar juga bisa berkurang dari 2 hari menjadi 1 hari.

Peningkatan kinerja terbaik ada di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Ambon. Peningkatan jumlah bongkar muat naik hampir tiga kali lipat, dari 12 boks per kapal per jam menjadi 35 boks. Dampaknya, jumlah waktu sandar dapat terpangkas tajam dari tiga hari menjadi satu hari. Bagi Pelindo, dengan makin pendeknya waktu sandar dan kecepatan bongkar muat membuat biaya operasional makin efisien, dan trafik kapal jadi meningkat. Paling tidak, hal itu sudah tergambar dalam kinerja kuartal I/2022. Arus kapal, misalnya, mencapai 283 juta GT, satu persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, arus peti kemas juga naik, yakni dua persen di atas pencapaian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal I/2022, arus peti kemas Pelindo mencapai 4,2 juta TEU’s. Arus barang juga naik lebih tinggi, delapan persen di atas tahun lalu, yakni mencapai 37 juta ton.

Hal itu, juga terlihat dari kenaikan EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) pada Triwulan I 2022 yang naik tujuh persen di atas pencapaian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Standardisasi operasional dan komersial memang menjadi salah satu fokus inisiatif strategis PT Pelindo (Persero) pasca Hal itu merupakan komitmen manajemen PT Pelindo untuk bisa berperan mengurangi biaya logistik di Indonesia. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh World Bank, biaya logistik di Indonesia tercatat sebesar 23 persen dari Produk Domestik Buro (PDB). Biaya tersebut lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Ongkos logistik di Malaysia, misalnya, sudah di angka 13 persen, lebih baik dari Cina (15 persen). Pencapaian terbaik diraih Singapura yang hanya 8 persen, setara dengan Amerika Serikat. Menurut Arif, pelabuhan memiliki peran untuk mengefisienkan biaya logistik melalui peningkatan produktivitas bongkar muat dan penurunan Waktu Sandar Kapal di Pelabuhan atau Port Stay. “Kita harus melakukannya bersama-sama karena biaya logistik menyangkut aspek lain seperti transportasi darat dan administrasi,” tekannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.