Sistem NLE API Jadi Solusi Pemerintah Katrol Efisiensi Sektor Logistik

Sistem NLE API Jadi Solusi Pemerintah Katrol Efisiensi Sektor Logistik

Jakarta – Disrupsi akibat pandemi COVID-19 mengelevasi kebutuhan akan layanan logistik. Hal itu membuat kinerja bisnis logistik justru bertumbuh saat sektor lain terpukul situasi pandemi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2021 terjadi pertumbuhan sebesar 3,24% pada sektor logistik. Data tersebut juga didukung dengan kontribusi nilai produk domestik bruto (PDB) pada sektor transportasi dan pergudangan, dengan nilai mencapai Rp 719,63 triliun atau setara dengan 4,24% dari PDB nasional.

Pertumbuhan sektor logistik ini salah satunya ditopang dari perubahan pola interaksi sosial dan pola interaksi bisnis di masyarakat. Di saat pergerakan secara fisik dibatasi, maka perdagangan bergeser ke model perdagangan online dengan mengandalkan jasa logistik sebagai tulang punggung.

Dengan besarnya nilai produk domestik bruto di sektor logistik tersebut, tak ayal memunculkan perusahaan-perusahaan baru di sektor logistik baik dari dalam dan luar negeri. Kompetisi di dunia logistik semakin ketat, sehingga inovasi dalam melakukan efisiensi menjadi salah satu faktor penentu kemenangan dalam persaingan bisnis logistik.

Inovasi layanan publik terkait logistik juga mulai bermunculan, seperti National Logistic Ecosystem (NLE) yang salah satu programnya adalah kolaborasi swasta dan pemerintah melalui pertukaran informasi dalam ekosistem NLE API (Application Programming Interface).

Salah satu layanan pemerintah yang sudah ada di NLE, serta dapat dimanfaatkan fitur API -nya adalah Layanan ekspor-impor pada Ditjen Bea dan Cukai. Petunjuk dan tata cara penggunaannya sudah dapat di unduh pada tautan linktr.ee/ceisa_h2h.

Johan Djaja, CEO dari platform clickargo yang bergerak di logistik menuturkan hadirnya API CEISA 4.0 (Sistem TIK Ditjen Bea dan Cukai) di NLE, sangat membantu meningkatkan efisiensi di perusahaannya.

“Integrasi sistem perusahaan dengan sistem Ditjen Bea dan Cukai secara seamless, mengurangi kebutuhan jumlah pegawai untuk entry data dan proses layanan di perusahaan kami, menjadi lebih cepat,” kata Johan dalam keterangan tertulis, Jumat (2/9/2022).

Ia mengharapkan NLE API tersebut terus dikembangkan dan semakin banyak layanan logistik berbasis API yang dapat dimanfaatkan di NLE.

Hal senada diungkapkan sebagai Senior Specialist Supply Chain Management PT. EPSON Indonesia Andri Friyantara. Andri merasa dengan tersedianya API CEISA 4.0 di NLE timnya tak perlu lagi input data ulang ke portal Bea Cukai. Sistem perusahaannya juga sudah dapat terintegrasi langsung dengan layanan impor CEISA 4.0.

“Sangat memudahkan,” ungkap Andri.

Sementara itu, Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai, Agus Sudarmadi menyampaikan transformasi sistem kepabeanan CEISA 4.0 dan National Logistics Ecosystem (NLE) dilakukan untuk mengentaskan berbagai hambatan.

“Penyebab terjadinya inefisiensi logistik di Indonesia disebabkan oleh repetisi dokumen, asymmetric information terkait supply dan demand, serta ketiadaan platform dari hulu ke hilir. Sehingga dengan adanya NLE, akan menimbulkan penyederhanaan kompleksitas perijinan impor, ketersediaan fasilitas track & trace, serta kemudahan layanan akses logistik,” jelas Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published.